Laman

Tampilkan postingan dengan label #indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 April 2012

Ajarkan (Bahaya) Korupsi Sejak Dini

Tulisan ini sebenarnya adalah essai dengan judul sama yang gw ingin ikutkan dalam kompetisi, tapi berhubung informasinya sangat detail sampai nggak sadar kalau lomba itu untuk jenjang dibawah gw, lo mau tau rasanya - sakit bro (╯°□°)╯︵ ┻━┻ ┻━┻ ︵╰(°□°)╯︵ ┻━┻

Essai ini dibuat hanya dalam hitungan < 3 Jam, kalau lo mulai nggak menemukan benang merahnya dan ingin muntah. Saran gw diawal siapkan dulu kantong mayat. Satu lagi, "gw" adalah kata haram dalam essai formal - ehhm ok bisa saya mulai? - selamat memuntahi.

--------------------------------------------------------------------------










Diawal saya ingin berbagi sebuah video TED yang inspiratif soal "Bagaimana Membisniskan Korupsi" karya Shaffi Mather, seorang sosio entrepreneur dan laywer asal India. Pemikiran beliau menurut saya fresh banget - salah satu solusi untuk mangatasi 1 Triliun Dollar transaksi suap (baca: korupsi) setiap tahun yang dicatat oleh Bank Dunia.

Ketika mendengar korupsi dilakukan oleh seseorang, maka saya berani menjamin kita sepakat bahwa perbuatan ini salah, Tetapi apa yang terjadi saat seseorang ada diposisi melakukan tindakan korupsi secara sadar?. Sebelum mulai membahasnya lebih jauh, kita harus menyamakan persepsi tentang definisi dan pengertian korupsi. Menurut Andi Hamzah, (2005) Korupsi berasal dari bahasa latin corupto cartumpen yang berarti; busuk atau rusak. Korupsi ialah perilaku buruk yang dilakukan seseorang secara tidak wajar atau tidak legal untuk memperkaya / menguntungkan diri sendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Korupsi adalah:

1) Penyelewengan atau penggelapan (uang negara, perusahaan, dan sebagainya untuk keuntungan pribadi dan orang lain)
 2) Menyelewengkan; menggelapkan (uang, dan sebagainya)

Mungkin dalam bahasa teknis terlihat begitu sederhana - mengambil hak orang lain / mencuri, seolah – olah korban pencurian (korupsi) adalah orang mampu yang kemudian bisa mengembalikan lagi kekayaannya. Padahal mayoritas korban adalah orang yang tidak mampu secara finansial, saya akan sederhanakan dan menganalogikan korupsi dengan bahasa yang lebih “merakyat” – Korupsi adalah kegiatan mengambil makanan seorang miskin yang akan mati karena kelaparan. Itu adalah gambaran paling sederhana, kenyataannya korupsi bisa berdampak pada 10, 100, 1000, bahkan jutaan orang miskin kelaparan. Begitu kejam bukan? Mungkin konseptual kata korupsi yang terlihat sederhana membuat orang yang melakukannya merasa tidak masalah mengambil sedikit materi yang bukan haknya.

Tongkat estafet Negara ini ada pada pemuda, kita harus sadar dan paham bahwa karakter seorang pemuda juga terbentuk sejak dia kanak – kanak. Dalam sebuah penelitian R. Yosi Aprian Sari, M.Si, Pujianto, M.Pd, dan Denny Darmawan, M.Sc membuktikan bahwa salah satu upaya membangun dan menjaga karakter pada anak-anak usia dini (9 – 12 tahun) adalah dengan mengontrol aktivitas anak terutama kegiatan usai sekolah. Mengontrol apa yang anak lakukan dalam keseharian atau saksikan dan dengar melalui media. Karena media seperti pisau bermata dua, yang memberikan input positif dan negatif berupa informasi dan pengajaran. Jadi apa pelajaran yang bisa anak kecil berusia 10 tahun ambil dari berita “Sang koruptor gayus tambunan, divonis 15 tahun dipenjara ber – AC dan di dalam masa penahanan bisa bepergian ke luar negeri”. Dalam bukunya Mantra, Dedy Corbuzier pernah membuat sebuah analogi menarik “Majikan cenderung mengajarkan pembantunya – hal hal yang tidak perlu, seperti memberitahukan sebuah berita bahwa ada pembantu yang memutilasi majikannya karena dendam” – Majikan itu mengedukasi pembantu dengan cara yang salah, yang dipahami oleh pembantu itu dua hal, pertama pembantu bisa membunuh majikannya, dan itu pernah terjadi dan dilakukan. Contoh ini, pada kasus berbeda bisa berlaku dalam mempengaruhi alam bawah sadar anak.

Terkadang media lebih memilih menceritakan berjam – jam soal “Apa kegiatan Nazaruddin” atau “Siapa Gayus Tambunan” dibanding “Bagaimana Sepak Terjang Dahlan Iskan” dan “Bagaimana Bob Sadino bisa menjadi Entrepreneur sukses Indonesia”. Prinsip Bad News is Good News harusnya menyadarkan kita bahwa mengubah media yang dewasa ini mayoritas money oriented sangatlah susah, fungsi pengawasan tertinggi adalah di kita, orang tua atau minimal orang – orang yang mengerti tentang apa yang patut dan tidak patut didengar anak pada usianya. Dalam hal ini kita diminta belajar menyaring informasi yang baik dan layak diberikan dan diterima oleh anak dalam usia tertentu.

Saya prihatin mendengar anak – anak menyanyikan lagu “Andai Aku Gayus Tambunan” dengan lancar, tetapi lupa lirik “Bintang Kecil” atau “Ambilkan Bulanku”- karya A. Mahmud. Saya adalah orang yang percaya apa yang kita dengar, lihat, rasa, pikir, dan lakukan saling terkait, akan membentuk karakter seseorang dan akhirnya terkolektif sebagai karakter sebuah bangsa.

Berikut adalah sebuah kisah fiksi yang contoh kondisinya sering terjadi dalam kehidupan nyata, tentang seorang anak dan pelajar bernama A, Anak pintar dari keluarga tidak mampu.

"A adalah anak SMA terpintar dikelas dan sekolahnya, mengikuti banyak lomba berskala nasional dan mengharumkan nama sekolah, belakangan banyak temannya yang menggunakan BlackBerry karena melihat di media hal ini sedang menjadi trend, karena malu A lalu berbohong dan bilang bahwa dia harus membayar sejumlah SPP yang notabenya sudah digratiskan sekolah karena prestasinya, dan membulatkan / melebih-lebihkan uang pembayaran buku dan perlengkapan sekolahnya, hanya agar bisa mengikuti trend. Secara alam bawah sadar, A telah mulai mentolerir dan membenarkan perbuatan yang dia ketahui salah.

Saat ujian nasional, karena takut tuntutan kelulusan, kepercayaan diri A yang terbangun selama 3 tahun hilang dalam 3 jam oleh sebuah kertas jawaban. A memilih untuk mencontek, kenapa? Karena seluruh temannya percaya, memilih, dan menggunakan jawaban itu. Akumulasi kegiatan salah -yang kemudian dibenarkan- ini akan terbangun dalam karakternya dikemudian hari nanti, saat ada kesempatan / kondisi yang mengarah pada kegiatan korupsi."

Dalam analogi ini ada begitu banyak faktor terlibat yang menyebabkan seorang pelajar A melakukan tindakan salah yang akan membangun karakternya di kemudian hari, ada berbagai peran dan kondisi yang terlibat didalamnya, yang harus kita lakukan adalah memastikan dan mengawal peran/kondisi itu semaksimal mungkin kearah yang positif untuk membangun karakter pelajar Indonesia yang memahami definisi dan pengertian bahaya laten korupsi lebih kepada menyengsarakan orang lain dibanding menguntungkan diri sendiri.

Demikianlah contoh dan aspek-aspek yang dapat menciptakan karakter pelajar di Indonesia yang mengarah ke budaya korupsi, korupsi besar dikemudian hari adalah akumulasi dari kesalahan kecil yang dibenarkan sejak dini. Membangun karakter pelajar Indonesia menjadi hal yang penting untuk mengubah jargon pemberantasan korupsi menjadi pencegahan korupsi, ajarkan tentang bahaya laten korupsi sejak dini.

Pustaka:

- Andi Hamzah. 2010. Pengertian Korupsi. <http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/11/pengertian-korupsi.html>
- Kamus Besar Bahasa Indonesia, Korupsi.
- Shaffi Mather. 2009. TED - a new way to fight corruption. India. <http://www.ted.com/talks/lang/en/shaffi_mather_a_new_way_to_fight_corruption.html>
- R. Yosi Aprian Sari, M.Si, Pujianto, M.Pd, dan Denny Darmawan, M.Sc. Edutainment For Children; Membangun Karakter Anak Usia Sekolah Dasar Melalui Pendidikan Sains. <http://lemlit.uny.ac.id/edutainment-children-membangun-karakter-anak-usia-sekolah-dasar-melalui-pendidikan-sains>
- Dedy Corbuzier. 2008. MANTRA. Jakarta
- Selebihnya pemikiran sendiri, sumpah berani kaya!

Rabu, 08 Februari 2012

Sex, Lies & Cigarettes: Sebuah Fakta Industri Rokok Indonesia

Tulisan ini saya buat, setelah menyaksikan film dokumenter karya Christof Putzel dan Current TV yang judulnya juga saya jadikan penggalan judul tulisan ini - Sex, Lies & Cigarettes berdurasi 42:45 Menit di kanal Youtube JantungIndonesia. Saya yakin tidak banyak orang bisa menyaksikan video ini ntah karena durasi yang terlalu lama atau koneksi internet yang tidak memadai, Saya berharap tulisan ini bisa memberikan gambaran tentang betapa bodohnya ketika seseorang memutuskan menjadi perokok, berpendapat bahwa Rokok itu KEREN, Rokok itu MENYENANGKAN dan Rokok itu SEXY.


MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN

Sebuah peringatan yang menggelitik tentang bahaya konsumsi rokok, melarang tapi justru menjual produk yang menjadi salah satu pemasukan Indonesia yang terbesar. Lalu untuk apa mencetak tulisan yang “terlihat” tegas kalau pada akhirnya hanya jadi sebuah slogan. Kenapa pemerintah tidak menutup perusahaan rokok? Sebuah alasan yang lagi-lagi terlihat logis, industri rokok tidak bisa ditutup karena jutaan orang mencari makan lewat industri ini. Bisakah kita memberi solusi yang konkrit selain menghentikan industri rokok? Saya harap setelah membaca tulisan ini anda tidak mempertanyakan lagi apa solusi konkrit masalah rokok ini selain menghentikan produksi industri rokok.

Cerita dimulai dari video beredarnya "Bayi Perokok Indonesia" yang pada pertengahan 2010 menjadi candaan baru di dunia internasional. Tetapi diantara jutaan orang yang menjadikan ini jokes, ada yang menganggap hal ini sebagai kelucuan yang berbahaya. Indonesia adalah surga untuk industri rokok dan neraka bagi kita (yang sadar betapa bahayanya rokok).


Sebuah fakta yang telah saya buktikan sendiri, sebuah kenyataan yang lama tidak saya sadari, karena semuanya seolah-olah terlihat normal. Dimana setiap 500 meter saya dengan dominan bisa melihat iklan rokok dimana-mana, Baliho toko, Spanduk rumah makan, Dinding tetangga, iklan, dan bahkan di Acara favorit TV saya.  Perokok yang terlihat KEREN, MENYENANGKAN dan SEXY ini, sebenarnya telah lama mengalami kemunduran di negara barat, tempat asal salah satu produk rokok yang terkenal. Lalu dengan strategi pasar yang sama, mereka meng-investasikan uangnya untuk mem-produksi objek yang telah ilegal diruang publik ini ke berbagai negara miskin dunia, salah satunya Indonesia. Buktinya Konferensi Dunia untuk Tembakau 2010 dan Berikutnya sudah dan akan diadakan di Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas penjualan produk yang baik di negara ini.

Tidak munafik, saya adalah perokok - perokok pasif yang terpaksa harus menghirup asap rokok dalam beberapa kesempatan. Saya termasuk beberapa dari anda yang tidak merokok, sebenarnya adalah salah satu bagian dari korban rokok, sebuah kebiasaan yang kita benci dan hindari tapi dengan terpaksa harus kita terima dan alami.

Anda mungkin melihat ada banyak hal yang perusahaan rokok berikan untuk kemajuan Indonesia, beasiswa pendidikan, bantuan kesehatan, dan pembangunan yang seluruhnya adalah keuntungan yang diperoleh dari penjualan produk rokok, tapi akibat yang ditimbulkan kemudian hari akan lebih besar dari kontribusi yang diberikan. Perusahaan memberikan bantuan pendidikan kepada anak tidak mampu yang 70% penghasilan orangtuanya untuk membeli rokok. Mari berasumsi baik bahwa nantinya anak itu akan menjadi orang sukses yang menghabiskan hartanya untuk membiayai penyakit orang tuanya yang menjadi perokok. Lalu apa hal lain yang mungkin terjadi? silahkan berasumsi buruk.


Indonesia adalah satu-satunya negara anggota WHO (World Health Organization) di Asia Tenggara yang belum meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control) padahal Undang-undang kesehatan nasional tahun 2009 jelas menetapkan tembakau sebagai zat adiktif berbahaya. Sangat jelas Nikotin itu racun, tidak secepat Sianida tapi merokok seperti menabung untuk kematian yang lebih cepat. Mungkin beberapa perokok aktif akan bilang “ini hak saya!”. Tetapi jangan lupa mempertanyakan pernyataan perokok pasif (mereka yang menghirup asap rokok) bahwa mereka juga punya hak yang sama atas udara bebas asap rokok.

Pemerintah menawarkan solusi, Ruang Untuk Merokok - masalah besar kita di Indonesia adalah tidak mematuhi peraturan, adanya para perokok di ruang publik. Saat saya menulis artikel ini ada 3 orang perokok aktif yang sedang menghidupkan rokoknya diruang kelas dengan 2 AC (Air Conditioner) menyala. Didinding ada tulisan jelas berukuran A4 landscape dengan tulisan “DILARANG MEROKOK”. Lalu apa yang bisa saya lakukan sebagai seorang perokok pasif? Peringatan? sudah, Sindiran? Sudah, apakah saya perlu mengusir? tidak bisa karena ini adalah ruang publik dimana merokok jadi hal yang wajar dan normal dan saya akan terlihat sebagai orang yang salah. Jika punya sedikit materi berlebih saya menyarankan anda berjalan-jalan ke ruang penyakit paru-paru di rumah sakit terdekat kota anda, meluangkan waktu beberapa menit untuk mengobrol dengan mereka.


Ini adalah salah satu contoh ketika peraturan hanya dianggap lawakan “Peraturan dibuat untuk dilangar”. Besok ketika saya terkena salah satu dari penyakit kronis yang disebabkan rokok, siapa yang harus menanggungnya? Perokok kesekian yang saya temui atau saya sendiri karena ada di ruang publik - ruang yang notabenya setiap orang berhak atas apa yang dia inginkan tanpa menggangu hak orang lain, tolong jadilah bebas yang bertanggungjawab, tanpa itu bebas akan berarti liar.

Bayangkan betapa kejamnya orangtua yang merokok disamping balitanya dan anak muda yang merokok di bus penuh orangtua, mereka menggunakan haknya pada tempat yang salah. Ruang bebas asap rokok begitu banyak jika perokok memang berniat baik untuk menghargai hak orang lain.

Tembakau jadi penghasilan sebagian besar petani Indonesia, perusahaan rokok jadi sumber penghasilan cukai negara yang cukup besar, dan ada ratusan orang yang mencari nafkah dibalik keberadaan rokok. Tetapi akan ada banyak anak Indonesia yang dimasa depan mengalami lonjakan penderita penyakit kronis, ada puluhan orang yang kesulitan berobat karena tidak mampu. Indonesia memang punya Sumber Daya Alam yang kaya tapi minim Sumber Daya Manusia, hal itulah yang membuat kita berpikir tembakau dan rokok adalah kekayaan terakhir yang bisa membuat kita sejahtera. Saat ini kita sedang dijebak pada sebuah kenyataan bahwa jutaan rakyat indonesia bekerja di industri rokok, untuk menghabiskan setengah penghasilanya membeli rokok. Penghasilan yang harusnya bisa membuat anak-anak Indonesia memperoleh dana pendidikan yang lebih besar dari beasiswa yang perusahaan rokok keluarkan. Ada 2 kebohongan dari industri rokok, pertama merokok itu tidak berbahaya dan mereka tidak memasarkannya ke anak-anak.


Perokok itu tidak berbeda dengan pembunuh, mereka membunuh dirinya sendiri dan saat berada di ruang publik tanpa mengindahkan peraturan mereka juga membunuh orang lain dengan perlahan. Saran saya sebaiknya tulisan peringatan itu diganti dengan “SELAMAT MENIKMATI ROKOK, SELAMAT MEMBUNUH DIRI SENDIRI, SELAMAT MEMBUNUH ORANG LAIN”. Hiduplah bebas dari rokok mulai hari ini, bukan karena saya begitu perduli dengan kesehatan anda tapi karena memikirkan kesehatan saya dan kehidupan anak-anak anda, orang yang akan melihat perokok aktif – anda, nantinya dalam kondisi ter-pasif dalam hidup karena rokok.

Referensi:
-Dokumenter Film Sex, Lies & Cigarettes
-Kanal Berita Vivanews, Kompas, dan VOA Indonesia
-Hal yang dilihat, Hal yang dirasa, Hal yang dialami
-Gambar, Google Keyword : Cigarettes, Rokok, Bayi Perokok Indonesia