Laman

Jumat, 20 Maret 2015

Nyepi: Adat, Toleransi & Penghematan Energi

Seperti tahun - tahun sebelumnya, Bali akan merayakan Tahun Baru Hindu, atau yang lebih familiar dikenal masyarakat Indonesia sebagai NYEPI

ADAT
Bagaimana perayaan Nyepi dari perspektif Adat Istiadat dan Budaya?

Nyepi asal dari kata sepi (sunyi, senyap) yang merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender Saka (caka), kira kira dimulai sejak tahun 78 Masehi. Pada Hari Raya Nyepi ini, seluruh umat Hindu di Bali melakukan perenungan diri untuk kembali menjadi manusia manusia yang bersih , suci lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.

TOLERANSI
Lalu bagaimana jika dilihat dari kacamata toleransi umat beragama?

Catur Berata Penyepian di Bali juga di ikuti oleh seluruh umat beragama non Hindu sebagai bentuk Toleransi, walaupun tidak 100% tetapi niat baik ini patut diacungin jempol. Misalnya mengganti lampu ke daya yang lebih rendah dan menutup kaca - kaca rumah agar cahaya tidak terpantul ke luar saat malam hari. Beberapa tahun ini Nyepi bertepatan dengan hari Jumat, yang artinya di siang hari akan ada Ibadah Sholat Jumat, syukurnya selama ini tidak pernah ada masalah. Karena jauh - jauh hari sebelumnya  tokoh agama sudah berdiskusi mencari jalan keluar bersama. Misalnya umat islam disarankan pergi ke masjid terdekat dengan berjalan kaki, kalaupun letaknya jauh ada surat keputusan bersama yang bisa dikoordinasikan dengan tetua adat setempat.

PENGHEMATAN ENERGI
Nah, yang paling seru dan menarik dari nyepi...

Seluruh umat Hindu yang ada di bali wajibkan melakukan Catur Brata penyepian. Sesuai namanya ada empat - catur brata yang menjadi larangan dan harus di jalankan saat fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya, dalam 24 jam dan dilakukan bersamaan oleh 3,9 juta penduduk Bali (source: data jumlah penduduk) : Amati Geni (tidak menyalakan api) - hasilnya semua acara stasiun tv di Bali akan jadi semut (baca: diacak), dan tidak ada penggunaan gas/batu bara/minyak bumi/dll karena Umat Hindu berpuasa 24 jam penuh. Amati Karya (tidak melakukan kegiatan) - hasilnya minimalisasi energi yang dikeluarkan karena yang dikonsumsi juga sedikit. Amati Lelungan (tidak bepergian) - hasilnya tidak akan ada kendaraan bermotor / kapal laut / pesawat terbang yang akan mendarat di Bali (kecuali over flight / emergency). Amati Lelanguan (tidak mengadakan hiburan/bersenang-senang) - hasilnya semua Hotel melarang tamunya bepergian keluar area, pusat keramaian seperti Mall, Cafe, Resto, dan Diskotik akan libur.Berapa banyak penghematan yang terjadi, kita simak data - data berikut ini: Tahun 2008 PLN mengistirahatan kedua pembangkit listrik saat Nyepi dan menghemat bahan bakar solar sebanyak 500.000 liter, atau setara dengan Rp 3 miliar. (source: okezone)Tahun 2010 PLN hanya menggunakan listrik sebesar 100 MW dari produksi listrik normal 582 MW, yang artinya hemat 482 MW pada beban puncak. (source: okezone). Lalu di Tahun 2011 PLN Distribusi Bali menyatakan terjadi penghematan energi hingga Rp 4,71 miliar, menekan tingkat pengeluaran emisi sekitar 17.000 - 20.000 ton C02 hanya dalam sehari. Pengurangan itu sebagian besar berasal dari pengeluaran emisi kendaraan bermotor dan avtur pesawat terbang. (source: seputar indonesia , vivanews), 2012 menghemat lebih dari 50% penggunaan energi listrik harian lho (source: media indonesia)

Selamat Nyepi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar